USULAN PENELITIAN

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KAYU SIWAK (Salvadora percisa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI PERUSAK PANGAN Pseudomonas aeruginosa, Listeria monocytogenes, dan Salmonella enteridis DENGAN METODE DIFUSI SUMUR SERTA APLIKASI PADA PRODUK OLAHAN DAGING

OLEH

ANDHI FAIZAL RAMADHANI

F24080126

A. LATAR BELAKANG

Antimikroba alami untuk masa sekarang dan yang akan datang lebih disukai oleh konsumen dibanding dengan menggunakan antimikroba dari bahan kimia. Pengawet hayati telah digunakan sebagai antimikroba dalam waktu yang lama tanpa menimbulkan efek samping terhadap kesehatan manusia (Rozbech, et al. 1993). Salah satu bahan alami yang memiliki aktivitas antimkiroba dan juga merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah siwak. Seperti disebutkan dalam salah satu hadist Rasulullah yang berbunyi,

“Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb”.

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Read the rest of this entry »

BAB 3 KEPRIBADIAN

CHAPTER 3 PERSONALITY

Kepribadian berkaitan dengan adanya perbedaan karakteristik yang paling dalam pada diri manusia, perbedaan karakteristik tersebut menggambarkan ciri unik masing-masing individu. Kepribadian menggambarkan konsistensi dan berlangsung lama, serta dapat berubah. Terdapat 3 teori kepribadian utama , yaitu:

1. Teori kepribadian Freud (Psychoanalitic theory of personality)

Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari tiga unsur yang saling berinteraksi, yaitu id, ego, dan superego.

2. Teori Neo-Freud (Teori Sosial Psikologi)

Teori ini menekankan bahwa manusia berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat dan masyarakat mebantu individu untuk memenuhi kebutuhan dan tujuannya.

Model kepribadian manusia terdiri dari 3 kategori yaitu Compliant, Aggressive, dan Detached.

3. Teori Ciri (Trait Theory)

Teori ciri mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik atau sifat atau cirinya yang menonjol. Teori ciri didasarkan kepada tiga asumsi, yaitu:

– Individu memiliki perilaku yang cenderung relatif stabil

– Orang memiliki derajat perbedaan dalam kecenderungan perilaku tersebut

– Jika perbedaan-perbedaan tersebut diidentifikasi dan diukur, maka perbedaan tersebut dapat menggambarkan kepribadian individu-individu tersebut. Read the rest of this entry »

BAB 6 PENGETAHUAN KONSUMEN

CHAPTER 6 CONSUMER KNOWLEDGE

Pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki oleh konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen. Pengetahuan konsumen merupakan output dari proses belajar konsumen tersebut. Dampak yang diinginkan dari iklan adalah meningkatnya pengetahuan produk konsumen melalui tingkat keterlibatan konsumen dengan produk dan atau proses pemilihan.

Menurut Women dan Minor, pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian. Ada tiga kategori pengetahuan konsumen menurut teori Women dan Minor yaitu pengetahuan obyektif, pengetahuan subyektif dan informasi mengenai pengetahuan lainnya. Engel, Blackwell dan Miniard membagi pengetahuan konsumen ke dalam tiga macam yaitu: Read the rest of this entry »

Assalamualaikum.

Redaksi halalmui.org, sehubungan dengan merebaknya berita mengenai adanya kandungan haram pada es krim Magnum Walls buatan PT Unilever Indonesia,  kami mohon bantuan redaksi halalmui.org untuk memberikan penjelasan mengenai hal tersebut. Benarkah pada es krim Magnum terdapat bahan kandungan dari lemak babi? Bagaimana hal ini bisa lolos dan memperoleh sertifikat halal dari MUI?

Terima kasih atas penjelasannya.

Rahmawati

Sondakan – Solo Jawa Tengah
Read the rest of this entry »

Jakarta, Andai Institut Pertanian Bogor (IPB) tidak pernah melakukan penelitian susu yang mengandung Enterobacter sakazakii, hingga kini dunia tak akan pernah punya standar kesehatan susu dan makanan yang baik.

Berkat penelitian yang dipimpin Dr Sri Estuningsih, dunia internasional jadi tahu bagaimana risiko infeksi E. sakazakii pada manusia.

Penelitian berjudul ‘Potensi Kejadian Meningitis pada Mencit Neonatus akibat Infeksi Enterobacter sakazakii ini pun dipresentasikan dalam sidang-sidang World Health Organization (WHO) dan Food and Drug Administration (FAO).

Dunia menilai penelitian Dr Sri Estuningsih sebagai kontribusi penting untuk kemanusiaan sehingga ia terpilih sebagai delegasi Asia dalam pertemuan para ahli di Roma yang membahas risiko infeksi E. sakazakii pada manusia.

Menurut Rektor IPB Herry Prof Herry Suhardiyanto, penelitian tersebut akhirnya dijadikan pertimbangan untuk penetapan standar Codex Alimentarius (Standar Internasional Kesehatan Konsumen).

Dus, sejak saat itu standar Codex menetapkan susu formula tidak boleh mengandung Enterobacter sakazakii. Alhasil, seluruh negara anggota Codex sejak tahun 2008 harus mengikuti standar terbaru tersebut untuk susu formula, makanan dan kosmetik termasuk Indonesia.

“Penelitian ini justru menyadarkan agar tidak keterusan mengonsumsi susu yang mengandung E. sakazakii. Terbukti setelah BPOM mengadopsi aturan Codex pada Oktober 2008, hanya 4 bulan sejak ditetapkan Codex, penelitian ulang dengan metode yang sama menunjukkan hasil negatif pada semua sampel yang digunakan,” ungkap Prof Herry dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Rabu (23/2/2011).
Read the rest of this entry »

Monosodium glutamate merupakan salah satu jenis bahan tambahan pangan yang berfungsi sebagai pembangkit cita rasa. MSG merupakan flavor enhancer yang berkonstribusi memberi rasa enak pada makanan apabila digunakan pada dosis yang sesuai. Dosis maksimum penggunaan msg menurut FAO/WHO adalah 120mg per kg berat badan per hari.

MSG merupakan salah satu jenis senyawa pembangkit rasa sintetik. MSG adalah garam monosodium dari asam glutamat yang terjadi secara alami sebagai salah satu building block dari asam amino pembentuk protein pada bahan pangan  (Reineccius 1994)

Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan MSG adalah tetes tebu (molases). Tetes tebu merupakan hasil sampingan dari industri gula. Tetes tebu ini kemudian mengalami fermentasi yaitu dengan menggunakan sejenis mikroba atau bakteri dalam memproduksi asam glutamat. Ada beberapa jenis bakteri yang digunakan dalam proses fermentasi ini, salah satu jenisnya adalah Corynobacterium glutamicum. Bakteri ini merupakan bakteri gram positif, non-spore former, non motil, dan membutuhkan biotin untuk pertumbuhannya (Hui 1992). Proses pengolahan MSG pada skala industri pada dasarnya terbagi dalam tiga unit proses, yaitu fermentasi, isolasi, dan refining.
Read the rest of this entry »

Salah satu teknik penerapan mikroorganisme dalam industri yang saat ini memperoleh perhatian besar adalah teknik imobilisasi sel. Teknik imobilisasi sel adalah suatu  teknik yang membatasi difusi bebas sel sehingga pemisahannya mudah yaitu dengan cara sentrifugasi atau filtrasi, sedimentasi secara gravitasi atau penarikan magnetik (Cheetam, 1980). Teknik imobilisasi dapat dilakukan dengan penggumpalan sel atau dengan mengisi sel atau menempelkan sel pada bahan pendukung padatan, sehingga sel dapat digunakan secara berkelanjutan atau digunakan kembali daam proses batch.

Teknik imobilisasi sel mikroba dikelompokkan dalam tiga metode umum yaitu :metode ikatan dengan pembawa (carrier binding), metode ikatan melintang (crosslinking) dan metode penjeratan (entrapping) (Chibata et al, 1983). Metode penjeratan sel mikroba langsung dalam  matriks polimer merupakan metode yang paling banyak digunakan. Polimer yang dapat digunakan untuk melakukan teknik imobilisasi dengan metode penjeratan sel mikroba antara lain kolagen, gelatin, agar, selulosa triasetat, alginat, poliakrialmida, dan polistiren. Mikroba imobil tersebut dapat dibentuk berupa manik-manik, kubus, bulatan atau lembaran.

Aplikasi S. Carlbergensis yang telah diimobilisasi pada skala industri adalah pembuatan alkohol atau etanol. Produksi etanol dengan metode di atas dilakukan dalam reaktor yang mengandung pelet gel koimobilisasi. Dengan sistem ini kecepatan fermentasi spesifik awal kira-kira 9 gram etanol / jam.pelet, dan keadaaan setimbang dipertahankan selama lebih dari 20 hari pada selang waktu 5 jam.
Read the rest of this entry »

“Belum lima menit”. Kata itu sering kita ucapkan ketika kita masih kecil bukan? Ketika makanan kita jatuh ke lantai, atau bahkan lebih parah jatuh ke tanah. Terus kita bilang “belum lima menit” lalu kita membersihkannya dan memakannya. Masa kanak-kanak dengan kepolosan dan ketidaktahuan memang menyenangkan.  Hidup tanpa beban dan terasa lepas. Senangnyaaa…^_^

Tapi seiring dengan berkurangnya umur kita dan menjadi semakin dewasa, kata “belum lima menit” itu sudah jarang kita gunakan lagi, bahkan memang seharusnya tidak kita gunakan. Mengapa? Lantai/tanah merupakan sumber kontaminan terbesar di lingkungan. Karena tiap waktu banyak orang lewat di sana dari berbagai tempat, misal kamar mandi, sambil membawa kuman yang mungkin saja dapat membahayakan kesehatan kita. Lantai yang kelihatannya bersih pun sebenarnya juga mengandung banyak kuman yang bersifat patogenik. Coba kita lihat, ujung jarum pentul yang luasnya tidak begitu luas alias kecil saja bisa mengandung kurang lebih 2 juta bakteri. Lalu bagaimana dengan lantai atau tanah yang lumayan luas, tinggal kita kalikan saja.

Menurut sebuah penelitian, bakteri yang menyusup ke dalam makanan sewaktu barada di lantaibarlangsung sangat cepat. Malahan lebih cepat dari gerakan si pemilik makanan loh. Paul Donson, ilmuan di bidang makanan dari Clemson University, South Carolina, Amrik, sempat melakukan penelitian tentang kontaminasi makanan. Jadi potongan roti dijatuhkan ke lantai keramik, kayu dan karpet dg bakteri Salmonella selama 5 sampai 60 detik.
Hasilnya, makanan yg jatuh ke lantai selama 5 detik terkontaminasi sekitar 1800 bakteri. Sementara kalo makanan yg udah di lantai selama 1 menit, maka jumlahnya lebih dari 10 kali lipatnya. Kebayang dong kalo makanan yg jatuh ke lantai sudah lebih dari 1 menit bahkan 5 menit ? jumlah bakterinya pasti berlipat-lipat.

Yuk kita kenalan dengan kuman-kuman yang biasanya ada di lantai :
Read the rest of this entry »

    ABSTRAK
    “BETLELIN SANITIZER” SEBAGAI HAND SANITIZER ALAMI DAN RAMAH LINGKUNGAN BERBAHAN BAKU DAUN SIRIH (Piper betle Linn)

    Oleh : Andhi Faizal Ramadhani

    Tangan merupakan sumber kontaminan terbesar pada manusia. Berbagai macam bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus, Salmonella, dan Escherichia coli dapat ikut tertelan masuk ke dalam sistem digesti tanpa budaya hidup yang bersih. Bakteri dapat menyebabkan demam, flu, kelainan sistem pencernaan misalnya diare akibat infeksi sampai masalah medis kronis seperti pneumonia.

    Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembiasaan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer yang lebih cepat dan praktis. Mayoritas hand sanitizer komersial yang beredar di pasaran mengandung alkohol rata–rata 60%. Menurut Interscience Conference on Antimicrobial and Chemotherapy, pemakaian alkohol sebagai bahan baku hand sanitizer tidak efektif membunuh bakteri serta masih dipertanyakan keamanan konsumsi makanan pasca penggunaannya. The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menegaskan bahwa tidak semua bakteri dapat dihambat pertumbuhannya dengan alkohol. Selain itu mengingat mayoritas konsumen hand sanitizer di Indonesia merupakan umat muslim sehingga muncul perasaan was-was ketika menggunakan karena masih dipertanyakan kehalalannya.

    Sementara itu, kekayaan botani Indonesia menawarkan bahan alami yang dapat menjadi substituen bahan kimia kurang ramah lingkungan dengan bahan organik yang juga bermanfaat dari segi kesehatan. Daun sirih (Piper betle Linn) memiliki kemampuan bakterisidal yang dapat menghambat dan membunuh bakteri. Hal ini dikarenakan daun sirih memiliki komponen senyawa antimikroba seperti fenol dan senyawa turunannya, yaitu kavikol, kavibetol, karvacol, eugenol, dan allylpyrocatechol. Kavikol merupakan turunan fenol yang terbukti memiliki sifat antiseptik lima kali lebih efektif dibandingkan fenol biasa. Oleh karena itu, daun sirih berpotensi sebagai alternatif bahan baku hand sanitizer alami dan biodegradable.

    Betlelin Sanitizer merupakan produk hand sanitizer yang menggunakan daun sirih sebagai bahan baku dengan fungsi identik seperti produk yang beredar di pasaran, namun jauh lebih ekonomis karena ketersediaannya kontinu di Indonesia. Produk ini dapat dipasarkan di seluruh Indonesia dan lebih dipusatkan di wilayah Jabodetabek yang mobilitas masyarakatnya tinggi. Berdasarkan kelayakan analisis ekonomi yang dilakukan, produk ini layak untuk dibuat dan dipasarkan.

    Keywords : Hand sanitizer, daun sirih, antibakteri.

Terkait masalah isu yang banyak beredar di masyarakat mengenai bahan tambahan pangan yang kerap kali ditambahkan oleh industri pangan untuk membuat produk yang dihasilkan menjadi lebih menarik baik dalam hal rasa maupun tampilan. Bahan tambahan pangan berupa penyedap tidak terlepas dari peran industri flavor yang akhir-akhir ini menjadi bagian penting pengembangan produk di industri pangan. Menurut data statistik, pasar flavor di dunia saat ini mencapai 10,2 miliar USD per tahun, angka yang tidak sedikit bukan? Itu berarti bahwa flavor, dalam hal ini industri flavor, sangat berjaya. Hal tersebut dikatakan oleh Prof. Aubrey Parsons dari Universitas Johannesberg Afrika Selatan.

Lebih lanjut Aubrey menjelaskan bahwa ada tiga jenis flavor yang banyak digunakan dalam industri pangan, yaitu alamid, identik alami, dan artisficial. Flavoring alami misalnya berasal dari hewan atau tumbuhan dan dalam proses produksinya hanya menggunakan metode fisik atau mikrobiologi (misal dengan solvent, ekstraksi, destilasi atau fermentasi). Sedangkan identik alami merupakan flavor yang berasal dari sintetik kimia atau diisolasi dengan menggunakan proses kimia. Dan secara kimia sama dengan flavor yang diperoleh secara alami. Sementara itu, flavor artificial diperoleh dari sintesis kimia dan tidak identik alami.
Read the rest of this entry »